Falling, Getting Up, dan Laughing
Falling and Getting Up
“Jangan tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakit. Tersenyumlah untuk menyembuhkan rasa sakitmu”
Ada senyum setiap hari yang dijalani, senyum dengan berjuta pemikiran, “Aku masih belum mengerti, kapan terakhir aku terjatuh.”
Terjatuh pada ego yang harus dikalahkan. Ini bukan pertama kalinya aku tersungkur jatuh akibat dikalahkan oleh diriku sendiri. Aku tahu pada akhirnya aku pasti akan melewati ini. Ada luka, ada rasa sakit yang menganga lebar, ada air mata yang mungkin disembunyikan.
Dimanakah kedamaian itu? Bukankah itu hanya ilusi? Hasil dari kreasi pikiran kita masing-masing? Selama aku menikmati sakit, kedamaian justru menjadi momok besar, dan untuk saat ini aku menghindarinya.
Bagaimana aku bisa seperti sekarang? Banyak kali ini terjatuh, falling, getiing up, falling, getting up again. Sejauh ini tiada masalah, aku hanya takut kakiku tak lagi mampu menopang.
Am I happy?
No.
Am I sad?
No.
Laughing
“Mampu tertawa ketika segala sesuatu dalam dirimu terluka, adalah salah satu bukti seberapa kuat kamu dalam menjalani hidup ini.”
Tak ada yang harus disejajarkan. Semua orang berbeda. Seringkali berlari sama cepat dengan yang lain membuatku tersengal dan jatuh. Tapi aku dituntut untuk tidak mengeluh. Dan inilah hasilnya. Tanganku sakit harus meneruskan tongkat estafet. Kakiku sakit harus menghentakkan kaki di arena pacu. Hatiku sakit harus memeluk erat segala kejenuhan.
Belajar dari kejenuhan yang mengental di sela-sela waktu yang semakin tipis. Aku banyak belajar dari diriku sendiri. Aku suka menampar diriku sendiri. Dan aku suka ditampar diriku sendiri. I do what I like. I say what I want. I think what I have to. Seperti menempah keramik, aku tangannya, aku pun tanah liatnya.
Sudah malam. Ingat berdoa ya teman. Selama kamu belum memutuskan untuk menjadi atheis, jangan lupa dengan siapa yang menjagaimu selama ini.
Dan aku masih tertawa, sedikit, beserta senyuman. Tertawa yang membuatku semakin gila, melakukan hal-hal aneh yang tidak pernah aku lakukan. Kata orang-orang aku aneh, ya mungkin itu ada benarnya. Keanehan itu bagiku adalah cara untuk bangkit dan melupakan betapa sakitnya terjatuh.
Tak apalah terluka, terjatuh menimbulkan luka yang mendalam, dan pelajaran untuk dapat bangkit kembali. AKu masih kuat kok, hehehe.
Dan juga berpikir, adakah yang merindukan aku.??
Mungkin juga jatuh cinta itu sakit, seharusnya.. menderita karena harus menahan rasa rindu. Yeah.

