KKN H+14 (1) – Seribu Hari Berlalu
Sudah lebih seribu hari aku ada di sini, kota dingin yang tak kusuka sejak awal, yang kumaki sejak detik pertama kaki memijak. Seribu hari yang penuh getir dan kebosanan. Kamu akan tau bagaimana rasanya jika mengalami nasib yang sama denganku.
Mungkin aku memang selalu menerima hal-hal yang tak sebanding dengan usaha. Tuhan tidak adil? Iya. dan aku sampai sekarang masih kecolongan untuk tak bersyukur. Manusiawi, kan?
Sudah seribu hari berkutat disekeliling desa yang tidak aku suka, suasananya; berkutat dengan rumah-rumah pondokan kami, berkutat menghitung empang. Walau setiap sudut menyimpan cerita. Suduh horror didekat gudang, sudut pompa air yang menghidupi, empang-empang dengan ikan-ikan yang semakin kelaparan, pasir-pasir yang mongering, pintu yang hampir menunai aja, hingga aku hapal koordinat bintang-bintang yang aku nikmati setiap pagi.
Sudah lebih seribu hari, padahal sebulan saja belum berlalu. Aku merasakannya sebagai waktu yang lama sekali, ini seperti kehidupan seribu hari. Seperti inikah rasa bosan yang bercampur dengan suksesnya dengan rasa rindu yang menjadi-jadi.?
Aku mulai terbiasa dengan kesendirian dan kebosanan, layanan selular yang ingin membanting handphone, pergerakan bahasa yang tidak aku mengerti, hingga anak-anak yang pub sembarangan.
Terlewat seribu hari aku berpuasa disini. Tak ada kedamaian dalam sahur disini, bahkan berbuka pun hanya seperti rutinitas pembatal puasa, tak ada kenikmatan. Teraweh pun hanya penggugur kewajiban, tak ada yang bias dinikmati disini selain menatap bintang dan bercerita bersama teman.
Surat cinta yang aku kirim pun masih tanpa balasan, tak ada yang harus aku nikmati saat ini, selain tetap menjalani hari. Menjadi beban atas setiap tawa yang terlepas.!
Apakah aku hebat, bertualang jauh sekali? Tidak. Lelah? sangat. KKN ini seperti tanpa hasil nyata, tak ada yang menarik, hasilnya? tak sebanding.
Yeah, aku hobi mengeluh. Tak pernah lewat hari tanpa aku mempertanyakan tujuanku. Kemana selanjutnya aku harus pergi? Tak ada yang tahu. Mengikuti kata hati, atau hanya Tuhan yang tahu. Entahlah. Seribu hari lebih? waktu akan menjawab apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sesakit apapun, itu semua proses. Sebodoh apapun, itu adalah pelajaran. Tak ada hal yang salah. Hanya belum benar.
jangan lagi menyesal.
Seribu hari ditambah hari-hari ini, semakin jauh merenda. Tahukah kamu bahwa rindu ini semakin menjadi-jadi, seperti luka yang menganga mengeluarkan darah kehidupan. Kamu adalah isi ulang darahku itu. Akhirnya aku semakin lama berpikir, dengan cara apa kita bertemu (kembali)?
Aku tidak tahu. Tapi keyakinan dalam hatiku bilang bahwa kita akan segera bertemu.. Sebentar.. Sebentar lagi. Sebentar lagi, biar Allah yang atur.
Sampai bertemu
![]()
InsyaAllah
Terlepas dari semua hal ini, I loved you for a thousand years..

جزاك الله خيرا على الموضوع