Awan dan Rindu
Kita tak akan pernah tahu apa yang Tuhan takdirkan untuk kita sebelum kita menutup mata. Aku tak akan tahu apakah kau yang Tuhan letakkan di genggamanku sampai kaulah yang menjadi napas terakhir. Aku tak mau takabur. Tapi aku berharap yang terbaik unttukku, kau pun.
11:40 PM 7/25/2012
Banyak keinginan yang aku kecup dengan sedikit air mata. Adakah yang terlahir didunia selain aku? Ah, aku mulai mengacau diterik malam hari.
Bagaimana bisa menulis jika rindu?
Aku ingin malam ini penuh dengan awan, mendung yang gelap. Dengan angin-angin malam yang pekat, aku sisipkan rinduku pada awan. Angin membawanya pergi jauh, ke ujung pulau dimana kamu berada. Jika kau dapati hujan berarti itulah rinduku yang aku sampaikan padamu melalui butir-butir yang menjadi kerinduan, malam ini. Entah kapan, tapi rindu itu hanya menjadi tetesan embun yang kau dapati di pagi buta. Itu berarti aku semakin merindukanmu selama di perjalanan hidupku. Simpanlah, jangan habiskan..
Waktu masih cukup panjang sampai rindu itu hilang. Waktu masih cukup panjang sampai rindu itu hilang. Dan tatkala matahari terbit dan kabut mulai menguap mengangkasa, maka aku harap kamu hadirkan rindu itu dalam hati. Jangan heran, aku akan muncul di sampingmu dan rindu yang aku sisipkan pada awan saat itu akan berbuah, dan rasanya manis.
Iya, ada saatnya matahari menghapus embun bersama hilangnya kicauan burung. Aku disini tiba-tiba hilang, dihapus waktu. Seakan semua perjalanan yang ada ini tertutupi oleh debu.
11:53 PM 7/25/2012
Haruskah hatiku mengikuti musim. Sekarang musim kemarau, gersang, debu, seperti tanpa harapan.
Langit malam ini masih seperti kemarin, bertabur bintang. Tapi tetap saja seperti langit hitam yang menghisap semua harapan. Harapanku aku dihisap dan pergi dari sini.
Aku ingin kembali. Kembali pada diriku sendiri, merangkai suatu jiwa yang penuh makna. Makna yang hadir tanpa harus terucap, menyala dicelah jurang yang terjungkal.
Haruskah seperti ini?
Yeah, tak apa menjadi kura-kura, perlahan pada kepastian, daripada berlari kuda namun terpleset dijurang. Tapi ini suatu ketidakpastian, semua berubah.
12:00 AM 7/26/2012
Waktu berganti, hari juga. Aku ingin tidur. Menyapa diriku sendiri, menyapa kamu dalam mimpi. Dan menyampaikan rasa takut ini, “takut kehilangan dirimu.”
Aku kamu katakana saja saat ini.
