Rasa Hujan Bulan April

Tidak seperti biasa, hujan jatuh di siang hari. Tanpa angin tanpa suara halilintar yang biasanya mengagetkan. Begitu tentram tapi tidak setentram hatinya. Dia jatuh dalam kubangan air hujan yang jatuh di jalanan yang terciprat pada dinding-dinding janji masa lalu yang sudah runtuh. Kini tidak ada lagi rasa itu.

Bau hujan yang biasanya tentram tak ada lagi. Dia tidak suka hujan lagi. Dia labih suka awan yang menutup cahaya matahari. Dia hanya berpikir itulah seperti itulah yang dia lakukan saat ini, menambal luka-luka dengan awan, biar tidak lepuh oleh panasnya sakit di hatinya.

Tapi tidak hari ini. Hujan seperti memercikkan air garam pada luka. Pedih. Percikan itu pula yang membuka luka-luka menjadi menganga lebar. Ini perlu di jahit, hatinya telah berserakan. Dia merasa ini seperti April Mop, “ah ternyata bukan. Ini April sungguhan.”

Dia tertawa pada hujan yang tidak kunjung reda. Tertawa terbahak-bahak tanpa ada sekalipun orang yang mendengarnya. Kisahnya hanyut dalam aliran hujan di jalanan tanpa alasan. Rasa hujan bulan ini serasa sendu. Biarpun hujan, hati mongering laksana gurun sahara. Hampa, sendiri, Sendu. Itulah yang dia rasakan.

“Semoga hujan bisa menghapus jejakmu,” ungkap dia dalam hatinya yang paling dalam. Dia berjanji menjadi Kartini dengan jalannya sendiri.

Damba

 Aku mendambakan senyum manismu, cahaya yang keluar di malam hari tanpa takut untuk bertemu dengan gelap. Karena aku adalah kegelapanmu yang selalu meminta kepada Tuhan agar kau tak pernah pergi walau malam.

Aku mendambakan jalan pikiranmu, yang menuntun aku melewati cela hidup tanpa takut untuk terperosok. Disana ada kamu yang membuai aku pergi bersama kudapan yang kita habiskan diperjalanan.

Aku mendambakan mimpi ini masih tentangmu, tertidur pun aku rasa dunia parallel yang penuh dengan tawamu, memikat kebahagiaan untuk terbangun tanpa rasa sedih lagi.

Aku ingat secarik kertas yang pernah aku tulis dulu, masih tersembunyi ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah. Aku terlalu memikirkan ribuan kali sebelum dia pergi. Hampir kejadian berulang kembali, karena waktu terlalu melengkung dalam urusan hati. Kemana kertas itu pergi? Aku tidak tertarik untuk mengejarnya kembali. Di sana ada sebuah takdir yang tidak bisa dirubah oleh manusia.

Di sini bukan neraka, bukan pula surga. Walaupun orang lain suka menyebut dirinya berada di surga ketika bahagia. Terakhir kali apa yang aku pikirkan hanya memimpikan dunia yang tidak aku kenal. Pelarian dari masa lalu yang hanya menjebak diri tidak pergi kemana yang dia suka. Walau itu seperti kenyataan, itulah mimpi yang sempat aku ceritakan.

Aku melongok jam tanganku, waktu serasa menjepit kakiku. Melepas kenangan masa lalu untuk mengerti arti yang telah aku tulis, damba itu sifat sangat ingin, rindu. Iya, aku mendamba.

Happy Birthday

Happy Birthday, kata dari mana itu? Aku mendengarnya ketika aku mulai beranjak dewasa. Bahkan ketika masih sekolah di tingkat dasar, aku masih terlalu lugu untuk mengerti kata itu. Tapi sekarang semuanya berubah, banyak yang mengucapkan “happy birthday” kepadaku, dan aku telah banyak mengucap kepada mereka juga, mereka yang aku anggap telah mengisi hidupku hingga aku akan selalu mengingat tanggal lahirnya.

Aku mulai bertanya-tanya, apakah ada seseorang yang bahagia ketika telah bertambah tua? Dan ketika kita telah tua dan ada yang mengucapkan “happy birthday,” sedangkan kita beranjak bijaksana sebelum kematian. Apakah yang sebenarnya ‘happy?’

19 Maret adalah hari ulang tahunku. Aku telah tua sekarang, tidak bahagia lagi ketika bertambah usia. banyak target yang ingin dicapai, tapi semuanya berantakan. Aku hanya berpikir sekian lama kita terlahir, seperti kita dipermainkan oleh takdir, takdir Tuhan yang menciptakan kita. Hitung, apakah hidupmu sesuai dengan harapanmu?

Sekian lama aku berpikir, “happy birthday” adalah rebirth, proses lahir kembali kita ke dunia ini.  pada akhirnya, suatu hari nanti aku akan menyadari bahwa bukan takdir yang mempermainkan kita, tapi kita yang belum menerima takdir.  Usaha tidak pernah letih, doa selalu mengucap kepada yang kuasa. disana adalah takdir yang mempertemukan kita dengan Tuhan kita. bagaimana hati bisa menyadari tentang eksistensi hidup kita di dunia ini mengenai fungsi dan hakekatnya.. 

Tentang eksistensi diriku, aku anggap adalah aku mulai menerima diriku. Aku mulai menyadari kelemahan-kelemahanku, aku mulai memetakan kelebihan-kelebihanku. Tuhan tidak serta merta menciptakan manusia sesuka hatinya, aku terlahir pasti penuh perhitungan. Iya, aku cukup menemukannya dan memanfaatkan kehidupanku.

Ada yang aku ketahui, aku seorang yang introvert. Introverts, in contrast, may have strong social skills and enjoy parties and business meetings, but after a while wish they were home in their pajamas. They prefer to devote their social energies to close friends, colleagues, and family. They listen more than they talk, think before they speak, and often feel as if they express themselves better in writing than in conversation. They tend to dislike conflict. Many have a horror of small talk, but enjoy deep discussions. I realize my character, and I don’t wanna be someone else life. i’ll try. Aku berusaha untuk bisa menerima tentang semua diriku,  bisa berpikir sebelum aku berbicara, menyelamatkan momen-momen kehidupanku dengan memaksimalkan kinerjaku, walau hidup itu tidak selamanya manis. 

Aku hanya berdoa kepada Tuhan, agar segera dipertemukan dengan diriku. Diriku yang menyedari tentang eksistensiku hidup didunia ini, seseorang yang bijaksana, dan memberi arti kepada sesama. Jika Kau sempitkan umurku, aku mohon agar Kau sematkan bahagia untukku. Aku tidak meminta yang terbaik dari sisi mataku, tapi Engkaulah yang mengerti yang terbaik buatku. aku harap aku segera menyadarinya dan terbangun di dunia ini, dunia yang semakin pekat. Amin!!!

-

19 Maret 2014, mungkin tidak banyak orang yang tau; aku berulang tahun. tepat jam 12:00 AM, ada kue berjalan yang datang kekamarku. Yap, it’s my birthday.

Iyaa, tiup lilinnya tiup lilinnya…!

Aku berpikir ketika aku meniup lilin, keluar semua ketakutanku selama ini. dan harapan, iyaa, harapan di umurku yang tidak remaja lagi.

Harapan, aku hanya tertawa ketika salah satu pembawa kue menyatakan doa kepadaku, “semoga cepat menikung.” hahaha

My first cake, to my beloved sister. Menjadi laper kembali melihat kue, dan dalam sekejap kue dihadapanku telah lenyap.

Kita semua adalah piranha-piranha kosan yang telah dibesarkan dengan sensor yang kuat jika ada makanan. Maaf, aku tidak sempat membaginya kepadamu.

dan setelah itu, aku ajak mereka semua pergi makan es krim ke Mc Donalds. Banyak hal yang kami bicarakan selain bicara tentang harapan, yakni tentang “mesin waktu.” Bagaimana jika kita menemukan mesin waktu, “akan pergi kemana kamu?” dan dunia ini parallel bukan? Tapi jika benar-benar ada, aku tidak akan kembali untuk bersama kamu lagi, aku mungkin akan hidup di dunia parallel yang lainnya.


Me and my beloved sister, spend time until morning. Smile

Aku harap ketika aku tebangun aku telah terlahir kembali, menjadi seseorang yang baru di dunia ini. tapi tetap dengan tatapan yang horror.

Thanks untuk semuanya yang masih mengingat semuanya tentangku. Love you all. …. 

Jangan Salahkan Jam Karet

Pasti pernah diantara kita membuat janji untuk bertemu. Oke, andaikan disepakati janji jam 9 untuk berkumpul, toh nyatanya saat jam 9 tersebut ruang masih hampa. Setengah jam kemudian baru mulai berdatangan, dan jam 10 baru semua berkumpul. Bukankah itu sesuatu hal yang mengesalkan bagi kita yang diburu waktu.

Begitu populerkah jam karet yang ada di Indonesia. Tapi kenapa masih sulit sekali untuk diberantas?

Pertanyaan muncul kemudian adalah apakah kita benar-benar tidak dapat menghargai waktu? Jika bukan kenapa masih selalu ada jam karet?

Disini masalahnya adalah kebudayaan. Tepat waktu barangkali adalah sesuatu hal yang baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Untuk itu mungkin tepat waktu barangkali amat penting dalam urusan dagang dan industri. Kita mengenal semboyan “waktu adalah uang”, tapi itu merupakan semboyan orang Barat sebagai semboyan untuk kaum dagang dan industry ini. Waktu bekerja untuk produksi emang sangat menentukan untung tidaknya suatu industry. Bangsa di Eropa dan Amerika sejak abad ke-18 telah memasuki era industri. Semuanya jelas harus terukur. Kalau kerja 10 jam dalam sehari, maka harus benar-benar 10 dikali 60 menti. Jika tidak, maka kacau balaulah industry tersebut. Selain itu, mereka juga telah memerlukan pula pembakuan, pengukuran, ketepatan, definisi, dan lain-lain.

Jika demikian, bagaimana dengan bangsa Indonesia ini. Di Indonesia kita mengetahui bahwa baru Dallam dasawarsa terakhir ini kita memasuki era perdagangan dan industry. Dengan demikian bahwa cara hidup seperti itu baru saja tumbuh.

Sejarah mencatat bahwa ‘gaya hidup’ asli bangsa Indonesia adalah pertanian, Negara AGRARIS. Dan dalam pertanian, kita lebih menekankan ‘rasa’ daripada ‘perhitungan yang memusingkan’. Untuk masalah waktu, waktu bergulir bersama kosmos, alam raya, alam semesta. Contohnya, kapan jam kerjanya? Shubuh. Kapan istirahatnya? Tengah hari. Kapan selesainya? Sore hari. Waktu melekat pada alam, pada matahari, pada rotasi bumi yang selalu berubah terhadap sudut pandang kemiringan pada matahari.  Oleh karenanya waktu bersifat relatif. Jam kerja ‘ketika matahari terbit’, dan tahu sendiri bahwa terkadang matahari terbit jam 05.30, kadang jam 06.00, atau kadang tertutup awan.

Dasar hidup agraris ini telah membentuk sikap dan kebiasaan nenek moyang kita. Ini juga tercermin dalam kebudayaan. Kalau didesa ada undangan dari lurah agar semua kepala keluarga rumah tangga hadir untuk rapat, waktunya setelah magrib atau saat lain. Toh, kemudian kedatangan para undangan juga tidak serempak karena waktu yang belum terukur. Mereka datang satu per satu, menunggu, datang lagi, barulah setelah lengkap acara dimulai.

Itulah, seolah struktur jam karet memang telah mengendap dalam darah daging kita. Dan ini orang tidak merasa menyalahi hukum atau merasa malu jika datang terlambat. Beda sekali dengan budaya barat yang selalu harus tepat waktu dan akan malu jika terlambat.

Perkembangannya budaya dagang dan industri telah berkembang di Indonesia. Pada akhirnya tentu akan menggilas budaya jam karet di Indonesia ini. Kalau semua orang telah terlibat dalam kesibukan produksi dan dagang, maka waktu memang menjadi waktu faktor penting. Jika tidak, mungkin butuh satu generasi untuk mengolah semboyan ‘waktu adalah uang’.

Photo Gallery #1

Ini adalah ketika aku ikut Sepeda Sehat.. btw, hanya aku ya yang aman!! haha

Ini sepeda santai yang sebenarnya aku tidak mau ikut. Soalnya bayar mahal, 25 ribu, terus belum tentu dapat jackpot lagi. Tapi gapi-paginya aku di ajak sama cewek yang pake jilbab warna pink itu. keburu melted aku. Langsung ganti baju dan cap cus pergi! haha

Aku terlihat berbeda ya.. ini ketika menghabiskan waktu di Game Fantasia

Ketika suntuk, tidak ada salahnya kita bermain. Kala itu aku bermain di game Fantasia. Permainan itu aslinya menarik, cuma mesinnya menggunakan bahasa Jepang semua, jadi siapa yang ngerti. Aku sampai kesel jadinya hahaha. kalah mulu soalnya.

I’m lost in Singapure. Beneran ilang lo aku ini haha

Gambar yang di Singapure, itu ketika aku pertama kali disana dan kebingungan cari stasiun MRT. Gila, disana susah ngapalin jalan dengan cepat dan isinya sama, apartemen. Jadi tidak punya ancer-ancer yang bisa di jadikan patokan. Pagi itu, aku habis dari gereja menemani temanku ibadah. Setelahnya nyasar dan kelelahan, kami muterin Singapure hingga gempor. Sebut saja Patung Merlion, Marina Bay, Orchad Road, Garden Bay, Singapure Flying, etc. Berbekal kartu sakti naik MRT. Baliknya, dengan suksesnya kami salah jalur, harusnya naik jalur hijau, tapi malah muter naik jalur merah. Ya nasib. tapi ketika itu aku heppi heppi aja sih.

Smileeeeee

Ini ketika aku mengarungi pulau-pulau kecil. Ceritanya lagi ada ombak gede, jadi terombang ambing di lautan. Aku mabuk. Mabuk itu tidak enak.

One of my favorite movies, 500 days of Summer. btw, yeah, I like you.

Am I feel lonely?

I will set you in the sky and name you. I will burry you in the earth like treasure.

Mengatakan bahwa aku kesepian tidaklah mudah. Itu merupakan salah satu berkas kehidupan yang harus disembunyikan dalam senyum, baik sendiri ataupun dalam keramaian di tengah-tengah temanmu sendiri. Itu merupakan takdir manusia untuk memiliki rasa kesepian dibalik rasa bahagianya. I feel unspeakably lonely. And I feel – drained. It is a blank state of mind and soul I cannot describe to you as I think it would not make any difference. Also it is a very private feeling I have – that of melting into a perpetual nervous breakdown. 

Aku biasa bercerita tentang apa yang aku rasakan pada sahabatku sejak SMA, dan kuliah masih tidak berubah.  Aku bisa berlari-lari dalam cerita yang bodoh tanpa takut untuk malu. Hal sebaliknya pun dia lakukan. Kami banyak mengetahui tentang masing-masing.  Hingga akhirnya dia meminta pendapat tentang pria yang dia suka.  “Mungkin dia memang untuk mu.”

Ternyata lelaki itu terlalu posesif, melarang dia berhubungan dengan lelaki manapun. Aku, teman-teman SMA yang lainnya. Sejak itu dia benar-benar menghilang. Bahkan di pernikahannya, tidak ada kabar apapun dari dia. Aku hanya tahu dari temanku yang lain. I don’t mentions anything. Dia yang menjalani, asalkan dia bahagia it’s no problem.  Aku merasa bahagia juga dan mendoakan atas kebahagiaannya ever lasting. Walau aku merasa kehilangan, I will set you in the sky and name you. And I hope you happy in rest your life, forever.

in theoretical version, I feel lonely again. Aku isi dengan banyak kegiatan yang bisa menghadirkan aku di dunia lain. Saat itulah aku jatuh cinta pada seseorang yang menjadi salah satu unsur radioaktif langka dimuka bumi, unsur kebahagiaan. Aku hampir merasa hidupku mulai lengkap dengan kehadirannya. Tapi takdir berkata lain, She left me! and there is nothing I can say. 

I think I can move on. Move on to new life, cuz i have opportunity to do that.  I fell in in love again. But it’s not easy to fall in love again, too much i spent for it.   Aku ceritakan pada teman baikku yang selama di Jogja sering bersama. Aku bawa dia ikut bermain bersama teman-temanku yang biasa kami berkumpul. Iya, semuanya terlihat baik-baik saja. Aku tipe orang yang jika percaya, akan percaya. Termasuk kepada teman baikku, aku bahkan mengorbankan banyak hal untuk berbagi dan bersama.  Singkat cerita, wanita yang aku suka di “sikat” oleh teman baikku sendiri.  Pada awalnya aku berpikir, “Ah itu urusan mereka, asalkan tidak bermesraan di hadapanku.” Tapi ternyata mereka berdua tidak tahu diri sama sekali. Aku mencoba menerima rasa sakit hatiku, yang tidak sedikit itu. Bukan karena seorang wanita, tapi “oh begitukah kelakuan seorang teman..” Tapi ya sudahlah. Katanya bisnis pertikungan sudah wajar di dunia ini.

Aku bercerita pada seseorang yang tidak pernah terpikirkan sekalipun olehku. Banyak cerita yang aku dapat. Jadi intinya ternyata teman baikku itu sudah mengincar seseorang yang aku suka, he used me as a bait to get her. Ketika itu aku berhasil di tenggelamkan oleh rasa kepercayaanku sendiri terhadapnya.  ‘Aku berpikir lama untuk hal tersebut..’  He is a good friend, not best friend anymore, and not good to be a friend. It’s like you walk alone, and you stabbed from behind. You bleed the wound, but no help you until you run out of blood. Maybe you can cured, but the scars will disappear?

I am often questioning myself what I further want to do, who I further wish to be; which parts of me, exactly, are still functioning properly. and No Answers. Yeah, maybe I will burry you in the earth like treasure that worthless for me.  I buried you in deep of earth.

Am I feel lonely? I don’t think so. Ada banyak teman yang dia bukan sahabatmu, tapi akan selalu ada ketika aku membutuhkannya, dan sebaliknya, aku harus selalu ada. I just remember what was said by Alan Ball. “It’s hard to stay mad when there’s so much beauty in the world. Sometimes I feel like I’m seeing it all at once, and it’s too much. My heart fills up like a balloon that’s about to burst. And then I remember to relax, and stop trying to hold on to it, and then it flows through me like rain, and I can’t feel anything but gratitude for every single moment of my stupid little life.” 

Dunia itu Enggak Kejam

Suatu hari disaat aku bersedih, aku ingin cerita pada semua orang, “Siapa bilang dunia itu kejam. Dunia itu enggak kejam, cinta itu yang kejam dan brutal.”

Pada kenyataanya, tidak semua yang aku ingin ceritakan bisa aku ceritakan. Aku ingin bercerita lewat tulisan, biar sekali saja aku cerita semua bisa mendengarkannya.  Dan setiap hari yang aku lalui, aku ingin sekali menulis. Tulisan yang menggakmbarkan setiap langkah yang aku lalui, setiap nyawa yang aku pikirkan. Aku menulis ketika aku memiliki banyak waktu untuk dapat meluapkan semuanya. Tapi sekarang, hanya aku dan pikiranku. Just me and my mind that know the story.

Aku ingin bercerita mengenai rahasia di dalam hidupku. Ada dua hal diantara hal yang aku pegang dalam hidupku, komitmen dan pertemanan. Makanya aku bilang dunia itu enggak kejam, karena dunia masih menjunjung tinggi kedua hal tersebut walau terkadang kita harus berperang untuk memegangnya.

Aku tidak ingin bercerita tentang cinta. Karena cerita cintaku merupakan cerita yang kandas, mungkin jika aku cerita disini, berarti cerita yang kandas juga. Aku ingin bercerita tentang efek yang dihasilkannya, yakni buta. People say, “love is blind, blinded by love.” Katakan saja, cinta bisa menghacurkan komitmen yang kamu buat walau komitmen itu dibuat dengan cinta. Bisa menghacurkan pertemanan yang kamu jalin sejak dulu kala.

Aku ingin menasehati diriku sendiri, “tapi harga diri tidak boleh jadi taruhan.” Yang ingin aku katakan, “jangan korbankan temanmu sendiri.” Walau hanya teman, tapi jalinan pertemanan itu adalah ikatan yang mampu menghidupkanmu di kala kamu mati sekalipun. Dan tetap jaga komitmen, karena komitmen itu harga diri. Sekali kamu lepas pada komitmen, maka tidak akan di anggap lagi.

Dulu aku berpikir, “wanita itu semakin cantik jika telah menjadi milik orang lain.” Sekarang, setelah banyak hal yang terjadi aku berpikir, “wanita itu tidak cantik lagi jika telah menjadi milik orang lain.” Kalau udah putus, mungkin bisa kembali kecantikannya. Hahaha

Maybe we must learn from Batman. Dia bisa saja menyelamatkan Rachel, tapi penduduk kota lebih membutuhkan Pahlawan untuk menumbuhkan kepercayaan akan kebenaran. Rachel mati oleh kejahatan Joker, tapi kejahatan tidak boleh menang. Itu adalah sebuah pengorbanan! Sangat susah sekali menjadi superhero, bahkan mengorbankan reputasi Batman untuk memberi sebuah ikon kebenaran. But he is still be a dark knight.

Aku ingat kata temanku, “cinta itu seperti sang Surya menyinari dunia, hanya memberi tak harap kembali.” Jika cintamu tulus, maka sebenarnya tidak ada yang kejam dan brutal. Hanya dunia saja yang membuat cinta jadi kejam dan brutal. Mungkin cintaku yang tak tulus, aku juga tidak mengharap kembali.

Seperti itu adanya. Dan aku tidak bersedih lagi. Berusaha untuk tidak bersedih. Sekarang aku tidak bersedih lagi. Dan aku ingin mengatakan sesuatu, “Enjoy the ride.” Tidak selamanya jalan itu beraspal, tidak selamanya berada di jalan tol, bahkan di luar angkasa sekalipun. Ada kalanya hujan becyeeekkk gg ada ojekk, ada kalanya badai matahari datang.

Dunia itu enggak kejam, kita yang harus belajar. On this way, we learn from start, from bottom. Sampai kapan dia bisa itu kan tegantung dari penerimaan lingkungan dan kognisinya. People always learn, always – kamu, dia, aku – semuanya sama. Dunia itu kejam karena kita terbiasa menjudge seseorang itu baik atau buruk, aku lebih baik dari kamu, dia lebih baik dari aku, dan sebagainya. Setiap orang punya keterbatasan masing-masing, termasuk memaafkan sepertinya. 

Yogyakarta 

Tuesday, ‎January ‎14, ‎2014, ‏‎9:40:53 PM

Someone Else’s Life

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.- Steve Jobs

Hidup itu rangkaian perjalanan, seperti kamu dan bayanganmu. Tatkala cahaya di atasmu, tak akan tampak bayangan; tapi jika kamu lembar saja cahaya ke kakimu, maka kamu akan tak terbatas. but, that’s not the point. 

Aku baru saja selesai menjadi MC di sebuah acara Nasional di kampus. Ada sebuah materi yang di sampaikan oleh seorang Profesor yang sebentar lagi akan purna. Mau tidak mau aku mendengarkan karena aku duduk nyaris di sebelahnya. Poin yang aku tangkap bukan materi yang disampaikan oleh beliau, tapi pesan tersirat yang aku rasakan di balik apa yang disampaikan. “Hidup itu melihat apa yang tidak terlihat, karena tidak semuanya kelihatan….” life must be wise.

Karena manusia punya takarannya masing-masing. Takaran itu merupakan kapasitas seseorang, tidak bisa di samakan. Kita seringkali terbiasa menjudge seseorang, baik itu baik maupun buruk, tanpa mengetahui takaran hidup yang dimiliki oleh orang itu. Gosip, mencela, kalau memuji bukan suatu masalah deh, dia buruk, dia untukku bukan untukmu.. *ups, curcol. haha. Seperti cantik pada parasnya belum tentu membuat seorang perempuan itu “cantik” pada banyak sisi lainnya. Karena semua tidak seperti apa yang terlihat oleh mata., tapi biasnya semua terlambat karena kita telah dibutakan terlebih dahulu.

Banyak yang mencela  pelacur dan prostitusi, termasuk ketika wakil gubernur Jakarta yang akan melegalkan prostitusi. Tapi apakah dengan mencela dan kritik bisa menyelesaikan masalah? Bahkan kompleks Doli di Sby yang telah di tutup hanya memindahkan masalah ke Malang. Siapa juga yang mau jadi pelacur, aku rasa tidak seorangpun wanita yang mau. Kecuali yang memang terbentur kepalanya. Pernahkah sebelum kita mencela, sesekali mencoba merasakan berada pada posisi mereka? Kondisi ekonomi, perbudakan oleh mucikari, dan lainnya. Pernahkah kita membuat lapangan pekerjaan yang bisa menyerap tenaga kerja dari mereka? Kita juga seringkali marah-marah sama sopir bis yang ngebut, sopir angkot yang ngetem dan seenaknya saja berhenti dimana dia suka. Tapi apa pernah kita sesekali berpikir berapa banyak yang dia butuhkan untuk membayar setoran, membiayai anaknya yang sekolah, penumpang yang tidak seramai dulu lagi, dan mungkin saja dia sedang lapar. Siapa juga yang tidak mau mengendarai kendaraan dengan tertib. Kenapa tidak kita salahkan saja pemerintah yang tidak mendukung pengadaan transportasi umum yang lebih baik, dan memperkerjakan mereka dengan peraturan keselamatan yang standar. Apa pernah kita lihat juga pemerintah membangun halte, rambu-rambu yang standar, memanusiakan pejalan kaki. Tidak kan? kenapa juga daripada kalian naik angkot dan mencela, tidak mencoba jadi penguasa dan berusaha mengubahnya. Kenapa sesekali kita tidak menyalahkan diri kita yang masih bangga mengendarai kendaraan pribadi, mencela kemacetan padahal kalian yang bikin macet, atau sesekali menyalahkan produsen mobil yang kita gunakan karena menyogok pemerintah. atau kenapa tidak sekalipun pernah menyalahkan. Sekali-kali kenapa tidak datang dengan solusi, atau bekerja melahirkan solusi?

Aku tidak berkata bahwa apa yang telah dilakukan itu semua buruk. Sesekali cobalah untuk tidak melihat, tapi luangkan waktu untuk merasakan dan melihat jauh lebih dalam lagi. But we’re living in someone else life and trapped by dogma. We’re living with the result of other people’s thingking. Makanya apa yang ada didalam pikiran kita adalah sesuatu yang umum. Yah, umum sekali.

Makanya Steve Job memberi nasehat seperti itu. Bagaimana kita bisa berinovasi jika masih berpikiran yang umum. Apple berkembang karena ada inovasi baru mengenai teknologi, dan ditiru oleh semuanya vendor. tapi aku berpikir, Apple berkembang karena telah digigit secuil, hahaha.

Follow your heart and intuition. kebanyakan dari kita seringkali menyalahkan orang lain ketika gagal, dan menyesalinya. “Ah, kenapa aku tidak seperti ini itu…….” Kita hidup bersama bayangan, tapi apakah bayangan mempengaruhi kita? Yang aku pikir, biasanya bayang-bayang masa lalu masih menghantui disela pikiran yang ingin terlepas. 

Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice.  Don’t depend to others. Karena jika bergantung akan seringkali kecewa. Jangan pernah salahkan orang lain kerena mengecewakan kamu. Salahkan diri kamu sendiri. Karena berharap terlalu banyak kepada mereka.

Sebenarnya, aku menasehati diriku sendiri. “Ayo Move On..” bahkan kalau bisa aku akan membuat gerakan Move On nasional. Bagaimana bisa buat kalau diri sendiri aja belum bisa move on. hahaha. Demikian daripada itu, don’t waste it living someone else’s life. But at least we can live with our friends who can make us laugh. And my friend say,don’t put your happiness into somebody pocket..” Kita yang menentukan kebahagiaan atas diri kita sendiri, trying harder to make ourself happy

At the end, we can live in someone else’s life, be someone else, or become someone. Rumput tetangga memang lebih hijau, akan tetapi apakah itu menjamin bahwa rumput itu asli. Bisa jadi, itu merupakan rumput palsu. Boleh jadi kita iri akan rumput yang lebih hijau, tapi bagaimana kalau tanah kita masih tandus dan perlu diolah lagi. dripada pindah ke rumput tetangga kenapa tidak mencari pupuk saja, atau barangkali saja rumput yang ditanam tidak sesuai dengan karakteristik tanahnya. Mungkin sama saja dengan hidup, The mystery of life isn’t a problem to solve, but a reality to experience… Menjadi bijaksana menyikapi misteri hidup, dan kita yang memilih cahaya mana yang akan menjadi bayangan kita sendiri.

Rasa

You will fall in love with me. Then, just months later, you will fall out. I  will pretend the entire time that I don’t know it’s coming.

Sebenarnya aku masih tidak memiliki mood untuk menulis. Maafkan aku!Tapi akhir-akhir ini aku dihantui oleh mimpi-mimpi yang berisi masa laluku, Masa lalu yang ingin aku buang karena aku anggap itu kadaluarsa,, atau bisa jadi berbelok di tikungan yang salah. Mungkin itu karena ada rasa. Aku hanya berpikir kenapa rasa itu tidak mudah hilang. Aku pikir, rasa itu seperti malam dan siang, salah satunya akan pergi, tapi pasti akan kembali lagi. Seperti malam dan siang, rasa itu aku bagi jadi dua jenis, cinta dan benci. Sisanya itu abu-abu, anggap aja ketika senja. Ketika senja, aku gagal berkali-kali menyembunyikan rasa, atau setidaknya gagal berpura-pura. Kadang sangat susah untuk menyembunyikan rasa.

Rasa Cinta

A :  Aku mau ke Indomaret, mau nitip nggak?

B : Hemm, boleh deh. titip cimory  deh.. lagi pengen itu.

A : Okee, mau yang rasa apa?

B : Kalau ada sih rasa cinta yang dulu pernah ada, atau kalau stoknya habis, rasa yang terpendam juga enak, sudah terfermentasi, memabukkan. hahaha

A : Ngik ngok…..

Anggap saja ini energi positif yang kamu miliki. Kamu menyukai ciptaan Tuhanmu, barang yang kamu miliki, seorang wanita/pria, keluarga. Kamu tidak ingin lepas darinya, bahkan ketika telah pergi. 

Bakal susah untuk melepaskan rasa cinta, sejatinya memang untuk dimiliki selamanya. Tapi bagaimana jikalau memang waktu pemakaiannya habis. Kata temanku, “hidup itu harus move on.” (move on =  banyak arti).  Kalau hidup belum berarti, itu belum move on. Dan hidup bisa berarti kalau ada cinta.. hasikk..

Tapi dari sisi lain yang aku rasakan, kadang kita sering melewati hal-hal yang enggak kelihatan. Yang enggak kelihatan bukan berarti enggak ada kan? Rasa cinta mungkin.

Rasa Benci 

Sungguh aku tak bisa, sampai kapanpun tak bisa

Membenci dirimu, sesungguhnya aku tak mampu

Sulit untuk ku bisa, sangat sulit ku tak bisa

Memisahkan segala cinta dan benci yang ku rasa

Benar kata Geisha, memang rasa ini muncul bersamaan dengan rasa cinta, potensinya sama. Keduanya sulit di pisahkan, but the end, siapa yang kuat itu yang menang.

Actually I want to hate my friend, he was stabbed from behind. But I can’t do that. I do not want to let the hatred haunts me. Jadi, biarkan saja. Nanti toh ada yang membalasnya. Aku pikir aku juga yang salah. Benar kata temanku, “orang Indonesia itu kalau tidak blak-blakan ngasih taunya, ya enggak tau.” Padahal ketika itu, senyumku palsu. but with the passing of time, I’m willing and i’m aware. Tidak bisa melepaskan kebencian begitu saja akibat satu hal buruk, padahal sebelumnya ribuan hal yang baik. 

Life is the focus to ourselves. Pilihan jatuh di tangan kita pada akhirnya.  Mungkin aku rasa benciku pada hal-hal buruk, pada orang-orang yang tidak sadar tentang yang dilakukan dapat merusak sekelilingnya. Alih-alih berbicara mengenai kebebasan, tapi nyatanya membunuh dengan perlahan. Ini rasa benci yang harus di jaga. Selebihnya, ingat kata Naruto, “Jangan biarkan kebencian menguasaimu…”

At the end, tentang rasa yang kita miliki, berdalih pada harapan atau penyesalan di masa lalu, ketakutan dan rasa ingin memiliki. Aku kutip dari Alif Fikri dalam Rantau 1 Muara, “Tuhan itu memang Maha Memilihkan yang terbaik buat siapa saja yang melihat dengan hati terbuka.

Sometime i pretend to don’t know if you will fall out. You left me! But I realized, it has happened and should not regret. Many things that should be an experience. Tentang cinta yang datang perlahan, membuatku takut kehilangan. Ku titipkan cahaya terang yang tak padam di dera goda dan masa. Itu lirik lagu yang masih mengingatkan tentang rasa yang susah, bahkan tidak tau jalan pulang untuk pergi. Tapi hati harus selalu terbuka untuk melihat, tentu hidup akan lebih berarti dengan rasa-rasa yang lebih beragam, tidak hanya rasa nano-nano. Mungkin saja bisa rasa nona-nona. Life catches you by surprise. It always does. But there’s good mixed in with the bad. It’s there. You just have to recognize it.

Today is a new day. There are opportunities and blessings waiting for you. Open up your heart to receive them. Look on the bright side of the day. You are going to meet people today that will respond to your smile, your small acts of kindness. Be willing to take time to listen to someone, to visit someone, to call someone on the phone. And you’ll fall with me again.

because we live

I’m not good. I don’t know why people have to pretend to be good, nobody’s good.” (Tennessee Williams, Cat on a Hot Tin Roo)

Karena kita hidup di dunia ini dan hidup tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan. Karena hidup sepertinya memiliki banyak cara untuk mengejutkan pemiliknya. Sehari semuanya berjalan lancar, keesokan harinya semua berantakan, sehari hidup penuh harapan, kesokan harinya harapan itu di renggut dariku, sehari kamu tertawa, mungkin keesokan harinya kamu akan menangis. That’s a life.

Aku pikir semuanya akan baik-baik saja ketika aku tidur, atau setidaknya setelah aku bangun aku melupakannya. Kenyataannya tidak! Susah untuk terlelap tidur dan terbangun dengan masa lalu. Kadang aku memimpikan dunia dalam film korea, indah dan romantik. Dan film korea ternyata tidak selamanya indah.  Di korea banyak yg jelek-jelek juga kok, sama seperti di Indonesia. Yang cantik lebih cantik dari orang korea kok., yakin dah..!! Seuh Yun tetap cantik kok. Hahaha. Saat terbangun, kembali kepada dunia nyata yang sepenuhnya dunia mimpi tidak bekerja.

Aku tertidur masih memimpikan kamu. Mimpi-mimpiku akhir-akhir ini makin membingungkanku, aku bingung mana mimpi mana kenyataan. Mimpiku terasa nyata sekali, seperti aku berada di dalamnya dan ikut mengalir dalam alur ceritanya. Kehidupan nyata terkadang seperti dalam mimpi, sering aku bertanya, “ini bukan mimpi kan?”

Kadang aku berpikir dengan konsep film drama sekali, “Entah kapan hidup akan mengijinkanku untuk selalu bersamamu, melihat indahmu, merasakan nadimu, semua hal kecil yang indah padamu.?” Dari semua yang paling ku takutkan, aku hanya takut tak cukup. Karena dengan semua bentuk kurangmu, dengan segala celamu, aku percaya kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Selalu yang terbaik. Entah kapan kita akan berhenti berpura-pura. Semua memiliki masa lalu yang buruk, “tidak ada yang sempurna.” Karena kita hidup di dunia ini dan hidup tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan. Makanya ada nasib dan takdir.

Ini adalah tulisan pertamaku di awal tahun 2014 (tulisanku tahun lalu ada disini). Setelah aku terbangun dari mimpi-mimpi burukku yang kemudian jadi kenyataan. Hahaha. Tidak sepenuhnya jadi nyata, hanya sebuah pertanda. Aku juga  belum sempat menulis tentang apa yang aku alami di pertama di tahun 2014. Aku harap setelah aku menulis ini, aku bisa melupakan masa lalu dah melangkah. Menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Amin…

Begitu banyak yang terjadi yang tidak perlu aku tuliskan saat ini. Tapi ada nesehat yang aku kutip dari Andera Hirata, “Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah.” Iya, karena kita hidup, mari bertualang melihat banyak tempat dan bertemu banyak kebudayaan. Tahun ini menjadi tahun dengan tagline baru, Keliling Indonesia. Amin..

And what happened later, that’s a live and enjoy the ride. Because we live.  Because nobody’s good, I’m not good. Yesterday I was sad, today I am happy! Yesterday I had a problem, today I still have the same problem! But today I changed the way I look at it!

Edisi Galau: Apa yang Indah?

Apa yang Indah?
Hujan deras malam ini seakan ingin memberi pesan singkat kepadaku. Yang harusnya aku lakukan dari dulu, “menghapus jejakmu.” Jejak-jejak indah yang telah berlalu. Kenapa harus meninggalkan jejak ketika tidak diinginkan untuk kembali?
Menghapus jejakmu seperti deretan kilatan cahaya dari langit yang pertanda hujan akan turun. Seperti goresan pensil yang dihapus, masih bersisa pada kertas, tersisa pada baris kata yang tak sempat menjadi kalimat.
Tidak ada yang indah dari jatuhnya hujan malam ini. Selain mengakhiri musim kemarau dan memberi banyak genangan, padahal aku membacanya “kenangan.”
Apa yang indah? Apa yang indah dari jatuhnya air dari langit. Mungkin jangan terlalu berekspektasi terlalu tinggi, nanti akhirnya kamu akan jatuh juga. Haha. Padahal ketika hujan adalah saat yang indah ketika masa kecil dulu. Main hujan-hujanan hingga sakit yang penting hati bahagia. Mungkin aku harus kembali ke masa kecil dulu, yang penting (dulu) hatiku bahagia.

Apa yang indah?
Mungkin semangkuk Indomie rebus pake telur, sambil menikmati music-musik di radio. Aduh siapa itu yang request lagunya Geisha, “lumpuhkanlah ingatanku”? Maklum, edisi galau. Haha

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.